Saya Pikir, Perayaan itu Tidak Perlu (?)

Pengalaman saya "merayakan" sidang skripsi adalah NGGAK ADA.

Begitu dinyatakan lulus, pikiran saya cuma terpaku pada ibu.
Beres sidang langsung kembali ke kostan. Packing pakaian. Sholat Maghrib kemudian mudik menggunakan sepeda motor. Di jalan saya hampir tabrakan dengan RX KING karena jalanan gelap. 😂

Saya sempat membayangkan nama saya masuk berita dengan judul:
"Pria ini kecelakaan sesaat setelah dinyatakan lulus sebagai sarjana."

Gokil.

Sampai rumah, saya Salim kepada ibu. Mencium keningnya kemudian memeluknya erat. Saya dan ibu menangis sejadi-jadinya. Terharu. Setelah itu, saya makan masakan ibu yg terkenal enak (setidaknya versi saya), sholat isya, kemudian tidur saking capeknya.

Keesokan harinya, saya buka medsos ngelihat postingan teman-teman yang sedang foto-foto di lapangan kampus ditemani orang-orang terdekatnya.

Saat itu saya berpikir:
"Sidang skripsi itu ternyata harus dirayain, ya?"

Seperti Biasa

Buku lagi.
Seperti biasa hehehe. Sekarang tentang apa? Entah. Aku belum pernah baca. Bahkan, kalau kau tak pernah mengajakku nonton filmnya tempo hari, aku tidak akan tahu bahwa ada cerita seharu itu. Aku bahkan tak pernah tahu bahwa film itu asalanya adalah sebuah buku.

Kata orang, jangan melihat buku dari sampulnya. Kataku, kalimat itu ada salahnya. Buktinya, sekarang aku membeli buku bukan karena isinya, tapi karena judul yang tertera pada sampulnya. Iya. Seperti berjudi. Aku menganggap buku itu bagus sehingga ia bisa kau genggam saat ini.

Aku percaya, orang yang memilih buku berdasarkan sampulnya tidak selalu bisa dikatakan salah. Proses itu selayaknya jatuh cinta pada pandangan pertama.

Seperti aku yang jatuh cinta kepadamu pada kenyamanan yang perdana.

Tapi, sudahlah. Kalimat sebelumnya pasti sudah sering kau dengar. Harusnya memang tidak diulang-ulang karena bisa jadi teramat membosankan. Hari ini bukan tentang itu. Hari ini bukan tentang aku. Hari ini adalah tentang kamu. Orang yang sedang berbahagia karena tepat hari ini, dua puluh empat tahun hidupmu telah berlalu.

Tidak ada kalimat yang terlalu istimewa. Standar lah. Biasa-biasa saja. Setiap orang yang menyayangimu juga pasti mengucapkan hal yang sama. Namun, tak ada salahnya, kan aku mengatakannya juga? Tidak secara langsung, aku tahu. Hanya lewat secarik kertas yang kukirimkan bersama buku ini karena kalau dalam bentuk lisan, mulutku biasanya terlalu kaku untuk dapat mengungkapkan.

Jadi, melalui surat ini kuucapkan: Selamat ulang tahun. Do’aku standar saja, lah ya. Sengaja. Biar sama dengan orang kebanyakan. Supaya aamiin-nya bisa bersamaan. Semoga panjang umur, sehat selalu, tetaplah menyenangkan untuk dicintai semua orang.

Tetaplah menjadi kamu, wanita bermata sayu dan selalu memberi keteduhan. Aamiin.

Tentang Hidup Tanpa Sosok Bapak

Ada banyak hal yang ingin saya ceritakan. Saya selalu merasa bahwa sesuatu yang saya pikirkan dan rasakan layak diketahui oleh orang lain. Namun, itu kan hanya sangkaan saya. Untuk hal ini, saya selalu berpikiran negatif. Adakah orang yang bisa suka rela mendengarkan cerita saya? Akankah mereka mengerti keresahan yang saya alami? Saya bahkan tidak tahu harus mulai bercerita dari mana….

Di tengah kebingungan itu, seorang teman dekat mengirimkan sebuah chat pendek. “Mulai dari sini.” Maka, kuputuskan untuk menulis keresahan ini sekarang. Di sini.

Akhir-akhir ini, saya sering merasa kangen dengan suasana rumah yang lengkap. Ada ibu, ada juga bapak. Saya kangen suasana maghrib yang hangat ketika bapak dan ibu bercerita apapun yang mereka alami seharian.

Semenjak bapak meninggal ketika saya masih berada di bangku SMP, otomatis saya hanya memiliki satu orang tua, Ibu. Beliau memutuskan untuk tidak menikah lagi walaupun pada saat itu kondisi ekonomi keluarga kami sedang jauh dari kata stabil. Sakit yang diderita bapak setahun terakhir benar-benar menguras asset keluarga kami.

Namun, di tengah keterpurukan sepeninggal bapak, ibu dengan mantap berkata “Ibu tidak akan menikah lagi. Adalah hal yang gampang mencari lelaki yang mampu memberikan nafkah lahir. Namun ibu tidak yakin orang itu akan memberikan cinta yang sama dengan apa yang bapak kalian berikan.”

Sebuah keputusan yang sampai saat ini saya yakini sebagai keputusan tepat.

Pada masa SMP hingga SMK, saya merasa bahwa hidup saya yang dibesarkan oleh seorang single mom berjalan baik-baik saja. Saya masih bisa sekolah sampai lulus SMK tanpa kendala, masih bisa makan sederhana namun cukup adanya, masih bisa bermain dengan bebas seolah tak ada hal di hidupku yang bermasalah.

Memasuki masa kuliah, semua kenyamanan itu seakan musnah. Berbagai masalah datang satu persatu membuat saya kian resah. Pada saat itulah, saya merasa ada sebuah ruang di hidup saya yang hanya diisi oleh kekosongan. Butuh waktu yang cukup lama bagi saya untuk menyadari bahwa ruang kosong itu seharusnya diisi oleh sosok seorang bapak.

Ya, saya mulai merasakan beratnya kehilangan sosok seorang bapak.

Bagian terberat dari kehilangan sosok seorang bapak bukanlah melulu soal materi. Apalagi ketika saya sudah dewasa, bisa menghidupi setidaknya diri saya sendiri. Kehilangan sosok seorang bapak berarti kehilangan sosok teladan. Saya kehilangan seseorang yang mungkin bisa memberikan contoh sekecil apapun dalam menjalani kehidupan.

Ketika masa-masa sulit saya sebagai seorang lelaki, saya kadang memikirkan bagaimana bapak menghadapi semua ini pada masanya. Apakah dulu bapak pernah merasa galau karena seorang perempuan yang dia cintai? Pernahkah bapak merasa kebingungan untuk menentukan jalan hidup mana yang harus diambil? Pernahkah? Bagaimana bapak dulu menyelesaikannya?

Sekarang saya sadar. Saya hanya mengambil contoh dari satu orang tua, yaitu ibu. Untuk beberapa masalah, saya tidak mungkin bertanya kepada ibu karena beliau belum tentu pernah mengalaminya. Untuk masalah yang berkaitan dengan dunia lelaki, saya hanya bisa menyelesaikannya sendiri.

Mungkin saya terdengar kurang bersyukur. Di luaran sana bahkan banyak orang yang tumbuh tanpa kedua orang tua. Saya masih beruntung bisa memiliki seorang ibu. Wanita tangguh yang membesarkan saya dengan kasih sayang dan materi tentunya. Saya masih beruntung bisa menemukan seseorang yang selalu ada ketika saya pulang ke rumah setiap sore sepulang kerja.

Namun, kenyataannya saya kadang iri dengan orang yang masih memiliki orang tua lengkap di rumahnya. Mereka bisa mencontoh sesuatu yang dikerjakan oleh orang tuanya agar bisa diterapkan dalam kehidupannya. Untuk anak lelaki, mereka memiliki seorang pria hebat yang bisa dijadikan idola. Dijadikan role model dalam menjalani kehidupannya. Seorang pria yang bisa dengan nyaman dipanggil “Bapak”.

Menurut saya, tempat curhat ternyaman selain Tuhan, tempat saya bisa ngobrol tentang apapun adalah dengan orang tua. Seorang perempuan yang tersakiti di luar rumah bisa sepuasnya mengadu kepada ibunya. Seorang lelaki yang terus-menerus mengalami kegagalan di luar sana bisa bercerita sebebas apapun kepada bapaknya. Mereka memiliki sosok untuk dicontoh. Sosok panutan pemberi panduan ketika mereka bingung untuk melakukan sesuatu. Orang tua selalu hadir dengan jawaban yang tidak akan bisa didapatkan dari orang lain.

Saya?

Saya kadang tidak bisa seterbuka itu dalam menceritakan masalah-masalah pelik yang saya alami. Terutama kepada ibu. Ada perasaan yang harus saya jaga. Ada kondisi yang harus saya pertahanakan agar segalanya tetap dianggap baik-baik saja.

Ya, aku bisa saja menjadikan orang lain sebagai role model. Menjadikannya contoh lelaki dewasa yang hebat. Menirunya dalam berbagai aspek. Masalahnya, mereka tetap saja “orang lain”. Ada jarak dan sekat yang membatasi. Mereka tidak bisa dijadikan sosok pengganti bapak yang telah lama pergi.

Saya sebenarnya memiliki seorang kakak laki-laki yang sudah cukup dewasa untuk mengerti permasalahan orang dewasa. Namun kakakku itu jarang ada di rumah. Dia bekerja di luar kota yang teramat jauh untuk dijangkau. Bukan masalah jarak, hanya saja saya lebih nyaman bercengkerama langsung daripada berhubungan via telepon atau sejenisnya. Sekalipun dia pulang ke rumah saat hari raya, saya tak pernah sanggup untuk membicarakan hal-hal seperti itu.

Ah, sulit rasanya untuk terus berpura-pura. Hidup tanpa sosok seorang bapak tak pernah bisa dikatakan baik-baik saja. Ibu dan bapak memiliki perannya masing-masing dalam membentuk watak seorang anak. Kehilangan salah satunya, apalagi di masa belia dapat berpengaruh banyak pada berbagai aspek kehidupannya di masa depan.

Seratus persen saya mengerti. Ini adalah jalan yang sudah digariskan Tuhan. Dia sayang kepada bapak, Dia juga percaya kepada saya. Percaya bahwa bahkan tanpa sosok seorang bapak, saya bisa hidup layak seperti biasa. Pasrah. Semua ini saya terima dengan kelapangan dada.

Untukmu yang mengalami dan merasakan hal yang kurang lebih sama, mari berjabat tangan. Panjatkan do’a. Semoga Tuhan tetap memberi petunjuk di setiap jalan yang kita lalui.
Terima kasih sudah membaca. Tetaplah bahagia.

Ditulis oleh Apep Wahyudin
Selasa, 19 Nov 2019

Jatuh Cinta Adalah Hal yang Sulit

Jatuh cinta adalah hal yang sulit.

Mengingat kita adalah sama-sama korban kegagalan di masa lalu. Yang terburu merasa nyaman tanpa pernah bisa membedakan antara cinta atau sekedar rasa penasaran. Kita sama-sama pernah memperjuangkan seseorang dengan hanya satu tujuan: kebahagiaan. Segala rela ditumpahkan bersama derai air mata, manakala daya dan upaya hanya berakhir sebagai goresan-goresan luka.

Karena jatuh cinta adalah hal yang sulit.

Kita dipaksa menutup luka yang menganga sekian lama walaupun perih. Memaksa kaki untuk kembali berjalan meninggalkan tempat berdiam meski terasa pedih. Menutup buku, membuka lembaran baru kemudian berdamai dengan masa lalu. Mengisi ruang kehampaan yang dulu pernah diisi seseorang, memenuhinya dengan kebahagiaan di masa depan.

Dan kau hadir sebagai kemudahan di tengah kesulitan. Mendobrak dinding ketidakpercayaan akan cinta yang benar-benar ada. Membumihanguskan benteng yang kubangun atas pondasi sakit hati. Dengan cara tersadis namun manis, sebuah dunia baru kaubukakan untukku.

Cinta, ia hadir sebagai suatu yang tak terduga. Selayak mentari di tengah mendung temaram atau oasis di tengah gurun pasir. Cinta juga datang sebagai tentara gerilya. Ia mengendap-endap dalam sunyi, mendekap dan membekap logika, menodongkan senapan seraya memaksa untuk menyerah di hadapanmu.

Aku tak bisa mengelak. Mencoba berontak namun magismu terlalu kuat. Di tanganmu, hatiku adalah tawanan yang tak rela dibebaskan.

SURAT UNTUK ANAK KECIL YANG KUPANGGIL “AKU”

Teruntuk kamu: Seorang anak dari masa lalu yang kupanggil “Aku”. Apa kabarmu? Masih seringkah kau takut dengan teman sebayamu yang tubuhnya lebih besar? Masih seringkah kamu menangis diam-diam di kamar ketika dunia tak seindah gambaran di buku pelajaran? Atau, masihkah kau membenci setiap orang setiap kali hatimu tersayat terluka?

Tentang Selera yang Berbeda (Bagian 2)

Lantas, bagaimana saya memandang diri saya sendiri?

Sederhana saja. Saya memandang diri saya sendiri sebagai orang normal dengan selera yang “berbeda”. Saya sama dengan orang-orang pada umumnya. Ini hanya masalah suka dan tidak suka. Bukankan setiap orang mengalami hal yang sama? Suka dan tidak suka hanyalah masalah selera. Subjektif. Suatu hal yang tidak bisa disalahkan. Kamu punya hak untuk menyukai sesuatu. Kamu punya hak untuk TIDAK menyukai sesuatu. Bahkan tanpa alasan sekalipun. Itu adalah hak.

Tentang Selera yang Berbeda (Bagian 1)

Kita tinggal di negara agraris bernama Indonesia. Sebuah negara dengan budaya berupa-rupa. Dari budaya yang biasa-biasa saja, hingga suatu yang cukup aneh kedengarannya. Salah satu budaya sebagian besar orang Indonesia adalah makan nasi sebagai makanan pokok. Tentu saja, hal ini didukung oleh kondisi geografis Indonesia yang sangat mendukung untuk menanam padi. Saking banyaknya orang yang mengonsumsi nasi, negara kita bahkan harus mengimpor beras dari negara tetangga (haha, negara agraris apanya?). Yang menarik dari kebiasaan orang Indonesia dalam mengonsumsi nasi adalah munculnya ungkapan bahwa “seseorang belum bisa dikatakan sudah makan jikalau belum mengonsumsi nasi”. Ada teman saya yang mengaku belum sarapan padahal sudah menghabiskan lima lontong dengan tambahan lima tahu isi lengkap dengan secangkir kopi. Namun tetap saja, dia mengaku masih lapar kalau perutnya belum terisi nasi.

Benar-benar budaya yang unik namun tidak cocok dengan saya.

Sebuah Keresahan akan Bahaya Sebuah Ketakutan

Persib menang! 3-2. Bojan Malisic dengan gagahnya menyundul bola di menit terakhir babak kedua. What a "killing the game" goal. Akhirnya setelah bertahun-tahun tidak bisa mengalahkan rival abadinya, Persija Jakarta, Bobotoh kembali bersuka-cita. Mereka merayakannya sambil berpesta pora. Aku sebagai penduduk asli Jawa Barat yang setiap kali Persib main selalu mantengin layar laptop untuk sekedar streaming pertandingan juga ikut senang.

Opini Tentang 'Anak Zaman Now'!

Pernah nggak sih kalian mendengar ungkapan seperti ini: "Anak zaman sekarang memang susah diatur!" atau "Anak zaman sekarang sudah rusak pergaulannya."? Mungkin bisa dikatakan bahwa ini adalah kata-kata sakti sejuta orang tua. Bukan hanya di dunia nyata, di dunia mayapun ungkapan ini sering kita jumpai.

Seperti baru-baru ini ketika teman seperjuangan saya mengunggah sebuah hasil tangkapan layar berisi judul berita tentang banyaknya korban miras oplosan. Sebenarnya nggak ada yang salah dengan postingan kawan saya ini. Berita tersebut memang benar, bukan hoax. Namun yang membuat saya sedikit gerah adalah caption yang mengiringi postingan tersebut. Kawan saya ini membubuhkan caption sebagai berikut:

Masihkah mau menutup mata akan "rusaknya" generasi sekarang yg katanya "anak zaman now"?

Keusilan saya kumat. Berbekal sedikit argumen, saya mencoba mengomentari postingan tersebut. Intinya, saya nggak setuju dengan ungkapan bahwa generasi sekarang itu sudah rusak. Jujur saja, ini nggak fair. Kalimat itu seolah-olah memukul rata bahwa SEMUA generasi sekarang itu sudah rusak oleh pengaruh minuman keras. Nggak bener ini.

Kami pun berbalas komentar. Sedikit perdebatan terjadi dan saya menganggap hal ini adalah biasa. Orang berhak berpendapat dan juga berhak untuk mempertahankan pendapatnya.

Bodohnya saya, kawan saya ini sukses membelokkan topik perdebatan. Dari asalnya ketidaksetujuan saya tentang penggunaan ungkapan "rusaknya generasi sekarang", 'comment war' berbelok arah perihal penanganan remaja yang terjerumus kepada minuman keras. Kawan saya ini bahkan sempat menanyakan sikap saya jika mendapati orang terdekat saya meminum minuman keras.

Di titik ini, saya sadar bahwa topik pembahasan sudah melenceng. Saya tidak lagi kompeten untuk membahas topik yang dibicarakan. Karena hal ini, 'comment war' saya akhiri secara baik-baik.

But.... Here is the thing:

Kembali ke pembahasan tentang "Anak zaman sekarang pergaulannya sudah rusak" di paragraf pertama, sebenarnya saya tidak pernah setuju dengan ungkapan ini. Begini, fenomena yang saya alami adalah banyak orang dewasa (walaupun nggak semua) yang suka membanding-bandingkan antara generasi zaman sekarang dengan generasi mereka di waktu yang telah lalu.

Sering saya mendengar seseorang berkata "Dulu saya main kasti setiap sore. Sehat! Nggak seperti anak zaman sekarang yang tiap hari mainannya handphone dan internet." Nggak seluruhnya salah, sih. Tapi, ungkapan semacam ini seolah menunjukkan bahwa generasi zaman sekarang selalu lebih buruk daripada generasi zaman dulu. Dan sekali lagi, ini nggak fair.

Pertanyaanya, generasi zaman old lebih baik dalam hal apa dulu?

Oke cukup tentang perbandingan lintas-generasinya. Menyoal kasus miras oplosan yang menewaskan puluhan orang itu, come on man. Minuman keras sudah ada di Indonesia sejak ratusan atau ribuan tahun yang lalu! Dan percaya atau tidak, beberapa daerah di Indonesia bahkan memiliki minuman keras khas masing-masing.

Kalau kita berpikir bahwa kebiasaan mabok itu baru ada sekarang-sekarang, tentu itu adalah kesalahan besar. Mabok dan ngoplos bukan hanya terjadi di anak muda zaman now, tapi juga terjadi di anak muda zaman old.

Sejak dulu. orang tua kita selalu berpesan untuk selalu menjaga pergaulan. Bertemanlah dengan orang-orang yang baik. Kalaupun terpaksa dekat dengan orang-orang yang 'buruk' kita dianjurkan untuk menjaga jarak serta membentengi diri kita agar tidak terbawa arus pergaulan yang buruk. Hal ini, menurut saya adalah bukti bahwa masalah pergaulan memang sudah ada sejak dahulu. Hanya saja kriteria pergaulan yang buruk itu tentu berbeda di setiap generasi.

Lantas, masih pantaskah kita mengeluarkan ungkapan "Anak zaman sekarang pergaulannya sudah rusak"?

Bukankah miras sudah ada sejak dulu. Free-seks merajalela bahkan sejak zaman jahiliyah sampai sekarang. Narkoba telah menjadi candu sejak ratusan tahun sebelum masehi hingga saat ini. Kata-kata kasar menjadi penanda setiap era.

Ayolah, kawan! Berhenti menggeneralisasi. Berhenti memukul rata. Harus diakui memang generasi zaman dulu lebih baik dari generasi zaman sekarang DALAM BEBERAPA ASPEK. Namun itu tidak semuanya. Generasi zaman sekarang tidak selalu lebih buruk dari generasi zaman dulu. Percayalah, setiap era memiliki masa kejayaannya. Setiap era memiliki masa kegelapannya. Setiap era selalu memiliki problematika.

Satu hal yang harus kita percaya:
Setiap orang ada masanya. Setiap masa ada orangnya.

Salam.
WP

Hari Kedua KKL

Kami sekelompok memutuskan untuk survey ke beberapa sekolah di desa tempat kami berkegiatan. Rencananya, kami akan melakukan kegiatan mengajar bahasa Inggris selama tiga minggu ke depan. Tidak nyambung memang, aku dan kelompokku bukan mahasiswa program studi pendidikan bahasa. Kami murni sastra Inggris berbasis pariwisata. Namun, karena keadaan desa yang memang tidak memungkinkan untuk adanya pengembangan kepariwisataan, maka bidang pendidikan dengan suka rela kami kerjakan. Sempat kurencanakan pula untuk menggali potensi kesusastraan di desa ini. Mungkin jika aku beruntung, aku bisa bertemu orang-orang sepertiku, pencinta puisi atau semacamnya. Lagi-lagi, rencana tinggal hanya rencana. Mungkin di sinilah kreatifitas kami diuji. Ah, aku selalu ingin menjadi pionir dalam hal pengembangan minat baca dan sastra di daerah-daerah semacam ini. Mengingat minat baca masyarakat Indonesia memang sangat memprihatinkan: 60 dari 61 negara di dunia. Miris....

Kegiatan survey dan sosialisasi kegiatan telah selesai. Cukup melelahkan, juga menyenangkan. Bertemu orang-orang baru, anak-anak kecil lucu (entah apa mereka akan selucu ini ketika dewasa nanti). Atas dasar demokrasi, kami memutuskan untuk pulang, didampingi oleh ibu kepala dusun. Ya, kepala dusun kami adalah seorang perempuan. Dan percaya atau tidak, ketua RT tempat kami tinggal juga sama, perempuan! Betapa emansipasi dan teori feminisme dijalankan dengan baik di sini.

Di perjalanan pulang, kami melewati kantor kecamatan, bersebelahan dengan puskesmas kecamatan conggeang. Orang-orang berkumpul membicarakan sesuatu yang kulihat sekilas sangat mengagetkan. Benar saja, telah terjadi kecelakaan tunggal yang dialami suami-istri. Sepeda motor yang mereka tunggangi dengan berboncengan menabrak pilar pagar sebuah vila. Dikabarkan bahwa sang suami mengalami vertigo mendadak sehingga tidak mampu menguasai laju kendaraannya.  Betapa terkejutnya aku dan teman-teman manakala kami mengetahui bahwa tempat kejadian perkara kecelakaan hanya berjarak seratus meter dari posko KKL! Benar-benar gila! Baru dua hari kami tinggal, sebuah kejadian mengerikan terjadi di depan mata! Kabar menyebar, sang suami meninggal dunia akibat pendarahan parah di bagian kepala. Sang istri yang malang kini koma setelah dilarikan ke rumah sakit umum daerah Sumedang. Tak pernah bisa terbayangkan, ketika ia sadar dari komanya, sang istri harus menerima kenyataan bahwa orang terkasihnya, sang suami, tak lagi hadir di sisinya.

Malam tiba. Bersama secangkir kopi dan sebatang rokok di antara sela jari, aku termenung sendiri di depan posko sembari menatap jalanan, jalur yang baru saja memisahkan nyawa dari raganya. Dalam hati aku memekik! Takdir selalu tak bisa diprediksi. Pagi hari kelompok ini bersuka cita, bercengkrama, berbagi tawa. Di siang hari, kecelakaan terjadi dekat sekali. Dalam diam, diantara kepulan uap kopi dan asap rokok, aku berusaha mencerna semua kejadian ini. Mati, biarlah tetap menjadi misteri. Satu hal yang pasti: jalanan adalah tempat terakhir kita menginjak bumi. Maksudku, jalan menuju surga atau neraka, masing-masing dari kita yang bisa tentukan sendiri.

-WP-

Aku Suka Matamu

Aku selalu suka matamu. Selayak kopi di dingin pagi penyedia kesegaran, tatapmu mengisi hari dengan penuh pengharapan. Mereka selalu bisa mengalihkan perhatian. Saat aku terpuruk dalam kesedihan, tatapmu datang sebagai obat penyembuhan.

Aku selalu suka matamu. Tatap sayu keduanya selalu menenangkan. Dan kau tahu sesuatu di balik ketenangan? Ada palung paling dalam tempat arus paling mematikan bersemayam. Aku tenggelam tanpa sedikitpun kemampuan untuk menyelam. Di dalam matamu, seluruh gelap menjadi terang. Memantulkan setiap bayangan tentang bahagia di masa depan.

Aku selalu suka matamu. Walau kadang matamu menyempit karena senyuman, bagiku, tenggelam di dalamnya adalah sebuah keberuntungan.

#WP

Kopi Yang Sama

Sepeninggalanmu, aku masih rutin 'ngopi' di tempat yang sama. Selepas senja menjelang maghrib, kursi-kursi ini tak pernah bosan menyambutku dengan hangat. Persis seperti hangatnya sambutanmu di waktu itu. Rapi mereka berbaris, bersiap memberikan kenyamanan untuk setiap insan yang datang.

Postur Tubuhku

Namaku Apep Wahyudin. Tubuhku tinggi, melebihi tinggi rata-rata manusia penghuni kelas. Entahlah, berapa tepatnya tinggi badanku saat ini. Tak pernah aku tertarik untuk mengukurnya. Yang jelas, setiap kali bertemu dengan orang baru, orang itu selalu berkata: “Wah, kamu tinggi sekali!”



Namun, tahukah kamu kalau aku adalah siswa terpedek saat SMP? Aku memiliki seorang sahabat seumuran. Kami bersekolah di SMP yang sama. Ketika itu, dia sudah memperlihatkan tanda-tanda pubertas. Tubuhnya membesar dan bertambah tinggi. Aku? Masih saja kecil dan pendek.

Kesal dengan postur tubuh yang tidak bisa dibanggakan, aku mulai melakukan beberapa usaha untuk mengubah hal tersebut. Pertama, setiap pagi, segelas susu menjadi menu yang wajib masuk ke tubuhku. Kedua, aku mulai ikut-ikutan latihan bola basket bersama kawan-kawan di ekstrakurikuler. Ketiga, dari internet aku tahu kalau buah pisang bisa menambah tinggi badan. Yasudah, pisang masuk dalam daftar buah yang harus dimakan secara konsisten. Demi tinggi badan!

Masuk SMK, tinggi badanku tidak mengalami perubahan yang berarti. Aku masih saja pendek seperti dulu. Hingga aku sadari, kebiasaanku berjalan kaki dari rumah menuju jalan raya sejauh 2 kilometer setiap hari mulai menampakkan efeknya. Tinggi badanku bertambah dengan pesat. Dalam kurun waktu 3 tahun, sekitar 25 sentimeter tambahan tinggi badan telah aku dapatkan.

Mungkin memang sifat alami manusia yang tak pernah bisa merasa puas. Selalu saja ada yang kurang dari hidupnya. Setelah penambahan tinggi badan didapat, aku malah dipusingkan dengan masalah lain. Aku terlalu tinggi! Ternyata menjadi seseorang berpostur tiang listrik tidak semudah apa yang dibayangkan. Aku selalu kesulitan untuk duduk di dalam bus karena jarak antarkursi yang terlalu dekat sehingga dengkulku tak mendapat ruang yang pas. Kasur lantai dan selimut harus diganti. Ternyata, perangkat tidur itu hanya bisa menampung tubuhku sampai betis. Sisanya, terasingkan dari kehangatan.

Dari kisah ini aku belajar. Kadang apa yang kita inginkan tak seindah apa yang kita bayangkan. Orang lain terlihat senang, padahal dialah orang yang menyimpan kesedihan paling dalam. Begitu pula sebaliknya. Kadang, menikmati apa yang ada jauh menentramkan daripada mengejar sesuatu yang tak pernah kita mengerti realitanya.

Hari Pertama Kuliah

Terbangun dari tidur yang selalu membuai manusia dalam kisah-kisah fiktif. Kembali masuk kelas, kembali pada realitas. Bahwa aku masih seorang mahasiswa yang perlu lulus dengan cara yang nggak selalu mulus. Bahwa aku masih harus terus mengejar nilai A yang nampak selalu lebih menarik dibandingkan mantan yang kian hari makin cantik.

Terima kasih Tuhan,
Oksigen yang kau sediakan secara cuma-cuma masih segar rasanya pagi ini. Entahlah kalau sudah siang, aku tidak terlalu yakin.

Terima kasih Tuhan,
Atas kehangatan cinta seorang ibu yang jauh lebih layak menyandang gelar Wonder Woman daripada Gal Gadot dengan kemampuan supernya. Cintailah dia!

Terima kasih Tuhan
Atas seduhan secangkir kopi hangat di antara dinginnya peluk yang dulu pernah kunikmati pula. Terima kasih atas mahakarya dengan segala filosofinya. Kudo'akan, semoga setiap nyawa yang terlibat dalam penciptaan kopi selalu mendapat cinta dariMu.

Terima kasih Tuhan
Walaupun dengan suka duka mahasiswa yang seringnya meringis dengan kuliah dan tugas yang sadis, kelasku masih tetap sangat menyenangkan. Terima kasih telah Kau anugerahkan rekan-rekan seperjuangan yang tak hanya ramah, namun juga hebat di bidangnya masing-masing. Terima kasih atas takdir yang telah mempertemukan kami.

Terima kasih Tuhan
Beasiswaku lancar. Ini juga yang menjadi alasan aku bangun sesemangat ini.

Terima kasih Tuhan
Atas seseorang yang selalu ada, pernah ada, dan telah tiada. Orang-orang yang silih berganti singgah di hati. Kini, semoga mereka yang telah pergi mendapakan tempat menetap yang lebih aman di hati yang lebih nyaman. Untukmu yang selalu ada, tetaplah ada.

Terima kasih Tuhan
Atas segala cinta dari setiap penjuru semesta.

Memandang Kopi Dari Sisi Filosofis

Seorang guru yang bijak pernah memberiku iming-iming keindahan surga. Katanya, surga dialiri sungai dengan empat jenis air, yaitu: Air tawar, Susu, Madu dan Arak. Munculah sebuah pertanyaan dariku: Mengapa tidak tambah sungai kelima yang dialiri kopi? Ia tergelak. Aku bengong tanpa suara. Dalam benakku, mungkin Tuhan memilih untuk berbaikhati dengan memberi kesempatan pada penduduk bumi untuk mencecap setetes rasa surga.


Kebanggan

Sekitar dua minggu ke depan, aku akan masuk kuliah lagi. Libur yang sebenarnya hanya perpindahan kesibukan akan segera berakhir. Selama libur kuliah ini aku memang nggak pernah nganggur kecuali di akhir pekan. Bagiku yang seorang pegawai honorer di sebuah sekolah menegah kejuruan swasta di kota Sumedang, libur kuliah berarti masuk kerja secara full. Sisi positifnya, hal itu juga berarti gaji yang full alias tanpa potongan jam kuliah hehehe And now, two weeks to go!

Kejujuran Secangkir Kopi

Aku masih sangat ingat semuanya
Saat itu, tanpa alasan yang jelas, kau undang aku untuk menikmati suasana senja di sebuah kedai kopi. Aku yang saat itu sedang sangat jatuh cinta kepadamu berpikir bahwa itu adalah sebuah rencana yang sangat romantis. Kau sendiri tahu bahwa aku adalah pria penikmat kopi sekaligus pengagum senja.

Bercanda

Tiang listrik
Kayak lidi
Peot
Pohon Berjalan!
Hantu Galah!
Awas terbang ketiup angin!
Loe pagi-pagi sarapan bambu ya?

Kembang Api




Belajarlah untuk merelakan. Karena seseorang yang memaksa pergi layaknya kembang api yang sumbu-nya sudah membara sejak lama. Belajarlah untuk melepasnya dari genggamanmu atau tanggung sendiri akibatnya: suara ledakan yang memekakkan telinga, cahaya terang membutakan mata, dan panasnya api yang membakar tubuh sampai ke dalam jiwa. Cobalah untuk melepaskan. Ikat sejumput kenangan tak penting tentangnya pada batang kembang api dan biarkan mereka terbang melesat jauh ke angkasa. Biarkan dia meledak di belantara awan hitam, hancur lebur berkeping-keping dan jatuh kembali ke tanah. Jangan pungut kepingan itu! Itu hanyalah sisa-sisa kenangan yang cepat atau lambat akan terbang ditiup angin sampai jauh. Sesaat setelah ledakan hebat itu terjadi, pandanglah langit malam. Percayalah, keindahan itu pantas kamu miliki.


Ditulis di depan sebuah cermin datar dalam kamar mandi.

#WP
#ApepWahyudin

Rahasia Senja dan Secangkir Kopi [Jatigede Travel Writing]

Jika kau sedang memiliki waktu luang, atau mungkin tempat kerjamu sedang libur, mampirlah ke rumahku sekali-kali. Bagi yang belum tahu, rumahku berada di sebuah dusun bernama Ciduging yang merupakan bagian dari Desa Tarunajaya Kecamatan Darmaraja Kabupaten Sumedang. Rumahku bisa ditempuh dari pusat kota Sumedang selama satu jam perjalanan menggunakan kendaraan bermotor.

Dari rumahku, aku akan membawamu ke tempat yang sederhana namun bisa sangat istimewa. Itu adalah tempatku mengistirahatkan tubuh dan pikiran, mencari inspirasi, dan yang terpenting, menikmati senja.