Keur Bapa

BAPA ...
Bapa….sok sanajan teu reuneuh tapi
getihna ngocor ka budak
Bapa…..sok sanajan teu ngajuru tapi
sora bapa nu pangheulana kadenge ku sora adzan
Bapa…..sok sanajan cape beurang peting gawe kurang sare belaan anak pamajikan bisa dahar
Bapa….sok sanajan teu meuli baju
lebaran nu penting anak pamajikan bisa make baju lebaran
Bapa…sok sanajan saurna jeung kurupuk nu penting anak pamajikan bisa jeung daging hayam
Bapa….sok sanajan sertipikat imah,
BPKB digadekeun ka BANK tetep bapa nu mayar
nu penting anak bisa sakola pamajikan bisa ngiuhan
Sing nyaah jeung hormat kanu jadi bapa
sok sanajan surga aya di dampal ema
tapi moal aya surga mun eweuh
karidhoan nu jadi bapa
Ya Alloh pasihan kabagjaan rejeki nu
gampil tuur barokah, sehat sareng
surga nu langgeung kanggo bapa nu
tanggung waleur ka kulawargana…….Amiin...


Dikutip dari: https://www.facebook.com/Katabijakbasasunda/photos/a.156710184466701.34080.156707614466958/789469877857392/?type=3&theater

Perjalanan Menemukan Nama

Nama gue Apep. Lengkapnya itu Apep Wahyudin. Mungkin nama ini terkesan aneh. Coba deh loe search di google kata “apep”. Yang keluar adalah gambar dewa Mesir berwujud ular.
Ketika gue pertama kali menghirup udara dunia, gue bernama Wahyudin. Nama itu kayaknya adalah nama yang paling religius diantara nama-nama anggota keluarga besar gue. Wahyudin adalah nama pemberian almarhum bapak. Beliau emang paling jenius urusan ngasih nama. Setidaknya untuk nama gue.

Karena gue adalah orang sunda dan anak cowok bungsu, gue dipanggil “Asep” sama emak gue. You know laaah banyak banget nama Asep di dunia ini. Sampai ada komunitasnya segala. Iya, ada loh komunitas yang semua anggotanya bernama Asep. Mungkin nama Asep suatu saat akan menyaingi kepopuleran tahu bulat.

Asep adalah nama kecil yang disematkan kepada anak kecil cowok di kalangan orang sunda. Ada juga nama “Ujang” yang merupakan kompetitor terbesar untuk nama “Asep”. 

Menurut cerita emak, ketika gue lagi diasuh, gue yang waktu itu masih berumur dua tahun selalu niruin kata-kata emak. Ya, pastinya kata-kata yang keluar juga nggak sejelas dan sebagus suaranya Raisha atau Isyana Sarasvati. Loe tahu laah standarnya suara bayi. Lebih mirip suara orang mabok jamur daripada suara penyanyi dengan penonton alay.

Ketika, emak manggil gue dengan sebutan “asep”, dengan spontan gue niruin ucapannya. Tapi, yang keluar dari mulut gue waktu itu bukan “Asep”, tapi “Apep”. Entah itu karena faktor umur atau itu bayi lagi mabok jamur sehingga omongannya ngelantur.

Sejak saat itu gue resmi dipanggil Apep. Tapi itu Cuma nama panggilan. Di akta kelahiran masih tercantum nama Wahyudin saja (nggak pake saja). Waktu kenalan sama orang, gue selalu nyebutin nama Wahyudin, tapi gue akan selalu minta dipanggil Apep.

Nama Wahyudin sendiri (cieee sendiri, pasti jomblo, hahaha) masih bertahan sampai kelas enam SD. Gue sih nyaman-nyaman aja dengan nama itu. Tapi, itu kayaknya nggak berlaku untuk bapak tua yang namanya selalu terpampang di meja paling depan di kelas.

Wali kelas jenius waktu itu ngerasa kalau nama Apep harus dijadiin nama asli karena gue emang lebih sering dipanggil dengan nama aneh itu. Bahkan nggak ada sama sekali orang yang manggil gue Wahyudin, Wahyu, atau bahkan Udin.

Hanya ada seorang wanita beruban, yang lebih mirip harum manis tanpa warna dikasih kepala, yang manggil gue dengan sebutan paling aneh. Setiap kali gue lewat di depan rumahnya, selalu ada sapaan khas. “Tos, timana Ayu?” Itu artinya “Darimana, Ayu?”

Ya, gue dipanggil Ayu. Loe bayangin, gue adalah cowok tulen yang dipanggil dengan nama cewek. Dalam bahasa jawa Ayu itu kan artinya “cantik”. Gue heran, itu kata “ayu” dia dapet dari mana? Nggak ada kata ayu dalam kata “Wahyudin”.

Akhirnya atas saran dari wali kelas jenius itu, kolom nama di akta kelahiran gue bertambah panjang. Sejak kelas 6 SD, nama gue resmi menjadi Apep Wahyudin. Gue nggak lagi dapet pertanyaan “kok, dipanggil apep? Nggak nyambung banget.” dari siapapun sejak saat itu. Tapi, yang paling nggak enak adalah gue harus pindah tempat duduk ke barisan paling depan ketika UAS atau UN.

Itulah sejarah absurd  dari nama gue. Mungkin Cuma bayi yang lagi mabok jamur yang bisa ngasih nama buat dirinya sendiri (sendiri lagi). Tapi, gue selalu bangga dengan nama itu. Kalau kata “Apep” dipisah menjadi “A Pep”, maka dalam bahasa Inggris frase itu berarti “sebuah semangat”. Hidup Apep !!!

Maret

Maret beberapa tahun lalu.
Aku telah lama tahu, saat itu akan tiba.
Ya, sebatas itulah mungkin apa yang terlintas di pikiran seorang anak 13 tahun yang baru menduduki bangku SMP. Aku terlalu belia untuk mengerti segalanya.

PEMIKIRAN YANG SEDERHANA

Hari itu saya putuskan untuk mencukur rambut saya. Maklum, saya tidak terbiasa dengan rambut gondrong. Tidak ada yang salah dengan rambut gondrong. Mungkin ini faktor didikan orang tua saya saja. Panjang sedikit, geli sudah rasanya kepala saya ini.

Kebetulan saya tidak sendirian. Saya berhasil menghasut teman satu kontrakan saya untuk bercukur juga. Tidak perlu jauh-jauh, kita langsung berangkat ke sebuah tempat pangkas rambut di sekitar kontrakan saya. Bukan salon, apalagi tempat cukur mahal dimana elu bisa bikin gaji sebuan loe cuma lewat sesaat di dompet. Hanya tempat cukur biasa, sederhana. Terpampang daftar biaya cukur yang saya kira cukup masuk akal demi sebuah penampilan rapi seorang mahasiswa (anak kost).

Alhamdulillah, rezeki bagi si abang tukang cukur. Hari itu cukup banyak pelanggan yang antri. Setidaknya terlihat banyak jika dibandingkan dengan luas ruangan tempat bercukur kami. Sambil menunggu antrian ya apalgi yang bisa dilakukan selain ngobrol sana-sini. Sama halnya dengan si abang tukang cukur yang terlihat akrab berbincang ringan dengan seorang om-om yang kayaknya lebih mirip bapak saya jika dilihat dari umurnya.

Saya sempat menangkap beberapa percakapan dua pria ini. Sempat pada suatu saat si om-om membahas tentang kekalahan partai politik yang katanya sih berbasis agama Islam. Miris memang, disaat kita sadar bahwa hampir 87% warga negara Indonesa beragama Islam, namun partai politik berbasis Islam malah K.O. Si abang tukang cukur ini membalas komentar si om-om dengan senyum tanggung. Dia berkata "Mungkin karena partainya beraliran Muhmammadiah." Semakin asyik ketika si om-om bertanya kepada si abang tukang cukur. "Terus abang alirannya apa? Muhammadiyah atau NU?" Dengan tegas dan setengah bergurau si abang tukang cukur itu menjawab. "ISLAM SAYA MAH. SIAPA YANG PEDULI? SAYA MAU BERALIRAN APAPUN ITU TERSERAH SAYA. DI AKHIRAT PUN TIDAK AKAN DITANYA 'ANDA MUHAMMADIYAH ATAU NU?'.

WOW. Satu kata yang pertama kali terbersit dalam hati saya ketika mendengar jawaban tersebut. Kata-kata itu datang bukan dari pejabat, bukan dari Ustadz apalagi dari presiden. Tukang cukur yang saya yakin bukan lulusan perguruan tinggi mampu berargumen seperti itu.

Akhirnya silahkan ambil kesimpulan sendiri. Saya buka ahli agama. Silahkan telaah sendiri maksud si tukang cukur tersebut.

Pemikiran yang sederhana itu tidak sederhana.
-Syntax

Pagi Ini 22 Maret 2015

Pagi ini dingin,
Sedingin tangan besi berkarat penguasa
Yang sudah siap menggantung setiap pemberontak
Asal ketukan palu berbunyi di meja hijau

Pagi ini cerah
Secerah hati bahagia para tikus got
Keluar dengan dasi dan parfum melatinya
Semerbak, seperti bau orang yang baru mati pagi ini

Pagi ini aku bangun sendirian
Berhadapan dengan penuntut umum
Tanpa pengacara,
Dan semua orang tahu

Pagi ini aku sarapan enak sekali
Sepiring roti isi omong kosong
Seharga satu triyun rupiah
Yang harus disumbangkan kepada fakir miskin
BERDASI.

- Wahyudin