Jatuh Cinta Adalah Hal yang Sulit

Jatuh cinta adalah hal yang sulit.

Mengingat kita adalah sama-sama korban kegagalan di masa lalu. Yang terburu merasa nyaman tanpa pernah bisa membedakan antara cinta atau sekedar rasa penasaran. Kita sama-sama pernah memperjuangkan seseorang dengan hanya satu tujuan: kebahagiaan. Segala rela ditumpahkan bersama derai air mata, manakala daya dan upaya hanya berakhir sebagai goresan-goresan luka.

Karena jatuh cinta adalah hal yang sulit.

Kita dipaksa menutup luka yang menganga sekian lama walaupun perih. Memaksa kaki untuk kembali berjalan meninggalkan tempat berdiam meski terasa pedih. Menutup buku, membuka lembaran baru kemudian berdamai dengan masa lalu. Mengisi ruang kehampaan yang dulu pernah diisi seseorang, memenuhinya dengan kebahagiaan di masa depan.

Dan kau hadir sebagai kemudahan di tengah kesulitan. Mendobrak dinding ketidakpercayaan akan cinta yang benar-benar ada. Membumihanguskan benteng yang kubangun atas pondasi sakit hati. Dengan cara tersadis namun manis, sebuah dunia baru kaubukakan untukku.

Cinta, ia hadir sebagai suatu yang tak terduga. Selayak mentari di tengah mendung temaram atau oasis di tengah gurun pasir. Cinta juga datang sebagai tentara gerilya. Ia mengendap-endap dalam sunyi, mendekap dan membekap logika, menodongkan senapan seraya memaksa untuk menyerah di hadapanmu.

Aku tak bisa mengelak. Mencoba berontak namun magismu terlalu kuat. Di tanganmu, hatiku adalah tawanan yang tak rela dibebaskan.

SURAT UNTUK ANAK KECIL YANG KUPANGGIL “AKU”

Teruntuk kamu: Seorang anak dari masa lalu yang kupanggil “Aku”. Apa kabarmu? Masih seringkah kau takut dengan teman sebayamu yang tubuhnya lebih besar? Masih seringkah kamu menangis diam-diam di kamar ketika dunia tak seindah gambaran di buku pelajaran? Atau, masihkah kau membenci setiap orang setiap kali hatimu tersayat terluka?

Tentang Selera yang Berbeda (Bagian 2)

Lantas, bagaimana saya memandang diri saya sendiri?

Sederhana saja. Saya memandang diri saya sendiri sebagai orang normal dengan selera yang “berbeda”. Saya sama dengan orang-orang pada umumnya. Ini hanya masalah suka dan tidak suka. Bukankan setiap orang mengalami hal yang sama? Suka dan tidak suka hanyalah masalah selera. Subjektif. Suatu hal yang tidak bisa disalahkan. Kamu punya hak untuk menyukai sesuatu. Kamu punya hak untuk TIDAK menyukai sesuatu. Bahkan tanpa alasan sekalipun. Itu adalah hak.

Tentang Selera yang Berbeda (Bagian 1)

Kita tinggal di negara agraris bernama Indonesia. Sebuah negara dengan budaya berupa-rupa. Dari budaya yang biasa-biasa saja, hingga suatu yang cukup aneh kedengarannya. Salah satu budaya sebagian besar orang Indonesia adalah makan nasi sebagai makanan pokok. Tentu saja, hal ini didukung oleh kondisi geografis Indonesia yang sangat mendukung untuk menanam padi. Saking banyaknya orang yang mengonsumsi nasi, negara kita bahkan harus mengimpor beras dari negara tetangga (haha, negara agraris apanya?). Yang menarik dari kebiasaan orang Indonesia dalam mengonsumsi nasi adalah munculnya ungkapan bahwa “seseorang belum bisa dikatakan sudah makan jikalau belum mengonsumsi nasi”. Ada teman saya yang mengaku belum sarapan padahal sudah menghabiskan lima lontong dengan tambahan lima tahu isi lengkap dengan secangkir kopi. Namun tetap saja, dia mengaku masih lapar kalau perutnya belum terisi nasi.

Benar-benar budaya yang unik namun tidak cocok dengan saya.

Sebuah Keresahan akan Bahaya Sebuah Ketakutan

Persib menang! 3-2. Bojan Malisic dengan gagahnya menyundul bola di menit terakhir babak kedua. What a "killing the game" goal. Akhirnya setelah bertahun-tahun tidak bisa mengalahkan rival abadinya, Persija Jakarta, Bobotoh kembali bersuka-cita. Mereka merayakannya sambil berpesta pora. Aku sebagai penduduk asli Jawa Barat yang setiap kali Persib main selalu mantengin layar laptop untuk sekedar streaming pertandingan juga ikut senang.