Kejujuran Secangkir Kopi

Aku masih sangat ingat semuanya
Saat itu, tanpa alasan yang jelas, kau undang aku untuk menikmati suasana senja di sebuah kedai kopi. Aku yang saat itu sedang sangat jatuh cinta kepadamu berpikir bahwa itu adalah sebuah rencana yang sangat romantis. Kau sendiri tahu bahwa aku adalah pria penikmat kopi sekaligus pengagum senja.

Bercanda

Tiang listrik
Kayak lidi
Peot
Pohon Berjalan!
Hantu Galah!
Awas terbang ketiup angin!
Loe pagi-pagi sarapan bambu ya?

Kembang Api




Belajarlah untuk merelakan. Karena seseorang yang memaksa pergi layaknya kembang api yang sumbu-nya sudah membara sejak lama. Belajarlah untuk melepasnya dari genggamanmu atau tanggung sendiri akibatnya: suara ledakan yang memekakkan telinga, cahaya terang membutakan mata, dan panasnya api yang membakar tubuh sampai ke dalam jiwa. Cobalah untuk melepaskan. Ikat sejumput kenangan tak penting tentangnya pada batang kembang api dan biarkan mereka terbang melesat jauh ke angkasa. Biarkan dia meledak di belantara awan hitam, hancur lebur berkeping-keping dan jatuh kembali ke tanah. Jangan pungut kepingan itu! Itu hanyalah sisa-sisa kenangan yang cepat atau lambat akan terbang ditiup angin sampai jauh. Sesaat setelah ledakan hebat itu terjadi, pandanglah langit malam. Percayalah, keindahan itu pantas kamu miliki.


Ditulis di depan sebuah cermin datar dalam kamar mandi.

#WP
#ApepWahyudin

Rahasia Senja dan Secangkir Kopi [Jatigede Travel Writing]

Jika kau sedang memiliki waktu luang, atau mungkin tempat kerjamu sedang libur, mampirlah ke rumahku sekali-kali. Bagi yang belum tahu, rumahku berada di sebuah dusun bernama Ciduging yang merupakan bagian dari Desa Tarunajaya Kecamatan Darmaraja Kabupaten Sumedang. Rumahku bisa ditempuh dari pusat kota Sumedang selama satu jam perjalanan menggunakan kendaraan bermotor.

Dari rumahku, aku akan membawamu ke tempat yang sederhana namun bisa sangat istimewa. Itu adalah tempatku mengistirahatkan tubuh dan pikiran, mencari inspirasi, dan yang terpenting, menikmati senja.

Curanpen [My First Short Story]

Di depan kelas, seorang mahasiswa berperawakan tinggi kurus berjalan santai menuju pintu. Sol sepatu pantofelnya beradu dengan lantai dan menghasilkan suara yang khas. Arya melirik ke arah jam tangannya dan menyadari bahwa dia datang terlalu pagi. Kelas pertama akan dimulai satu jam lagi. Di ambang pintu ia berhenti, kemudian mencondongkan badannya ke depan seolah-olah sedang memeriksa keadaan di dalam kelas. Beberapa mahasiswa lain tengah duduk-duduk di bangkunya masing-masing. Di barisan depan, seseorang sedang sibuk membaca buku super tebal. Tiga orang wanita tertawa terbahak-bahak. Entah apa yang mereka bicarakan.