Di depan kelas, seorang mahasiswa berperawakan tinggi kurus berjalan santai menuju pintu. Sol sepatu pantofelnya beradu dengan lantai dan menghasilkan suara yang khas. Arya melirik ke arah jam tangannya dan menyadari bahwa dia datang terlalu pagi. Kelas pertama akan dimulai satu jam lagi. Di ambang pintu ia berhenti, kemudian mencondongkan badannya ke depan seolah-olah sedang memeriksa keadaan di dalam kelas. Beberapa mahasiswa lain tengah duduk-duduk di bangkunya masing-masing. Di barisan depan, seseorang sedang sibuk membaca buku super tebal. Tiga orang wanita tertawa terbahak-bahak. Entah apa yang mereka bicarakan.
For God: This Is The Proposal of My Life
My name is Apep Wahyudin. I am going to be a king in my own kingdom!
I was born in a village called Dusun Ciduging on 25th May 1996. It is twenty one years ago. I don’t come from a wealthy family, just a common family like the others. My father was a farmer and my mother is just a housewife. My parents were blessed by the God to take care four daughters and two sons included me. It was not easy for me as the last child. By this situation, I always had to share everything with my siblings: foods, drinks, bed, and even education. I am so thankful because the only one child of my parents who has the best education degree is me. I passed the senior high school degree while my siblings just passed junior high school or primary school.
I was born in a village called Dusun Ciduging on 25th May 1996. It is twenty one years ago. I don’t come from a wealthy family, just a common family like the others. My father was a farmer and my mother is just a housewife. My parents were blessed by the God to take care four daughters and two sons included me. It was not easy for me as the last child. By this situation, I always had to share everything with my siblings: foods, drinks, bed, and even education. I am so thankful because the only one child of my parents who has the best education degree is me. I passed the senior high school degree while my siblings just passed junior high school or primary school.
Lebih Baik Sakit Hati Daripada Sakit Gigi
Ada yang merasa asing dengan istilah "Lebih Baik Sakit Gigi Daripada Sakit Hati"?
Ada?
Serius ada?!
Anj#r!! Kemana aja loe?
Serius, ini kata-kata terkenal!
Nih gue kasih penjelasannya. Kalau nggak salah --berarti bener-- ini adalah judul sebuah lagu dangdut. Dan kalo nggak salah juga, penyanyinya adalah Megy Z. Coba cek di google deh! Eh, jangan bilang kalo loe juga nggak tau google! Nggak mungkin!
Banyak yang menggunakan kata-kata ini untuk menggambarkan betapa mengerikannya sesuatu yang mereka sebut 'patah hati'. Iya, patah hati yang selalu berujung sakit hati. Saking mengerikannya, mereka lebih memilih untuk merasakan sakit gigi ketimbang sakit hati. Bagi mereka, sakit gigi itu nggak ada apa-apanya. Cetek! Sakit gigi ada obatnya. Lah, sakit hati? Kemana obat hendak dicari?
Sekarang gue tanya lagi. Jangan protes kalo gue nanya melulu! Loe pernah ngerasain sakit gigi nggak sih? Pernah? Atau nggak pernah? Kalau nggak pernah, ya, bagus. Itu tandanya gigi loe sehat. Itu tandanya loe udah mengamalkan apa yang dikatakan oleh iklan-iklan pasta gigi. Juga, itu tandanya Tuhan masih baik sama loe.
Kalo loe nggak pernah ngerasain sakit gigi, nih gue kasih gambaran. Mungkin nggak semua orang bakalan paham karena ini cuma gambaran. Tapi, Kalau loe mau ngerasain sensasi sakit gigi yang asli, loe cukup makan cokelat tiap malam, dan jangan gosok gigi selama sebulan.
Pengalaman merasakan sakit gigi adalah sebuah pengalaman yang mengerikan. Ketika gue sakit gigi, kata yang paling sering gue ucapkan adalah: aduh, astaghfirullah, dan anj#ng. Iya, ironis memang.
Saking sakitnya, apalagi ketika malam, gue nggak bisa tidur nyenyak. Hampir setiap satu jam gue kebangun, merintih kesakitan, tidur lagi, sejam kemudian bangun lagi. Terus menerus sampai gue akhirnya bangun pagi dengan kondisi yang ngantuk berat karena kurang tidur. Nggak cukup sampai di situ. Yang tersiksa di malam hari itu bukan cuma gue. Tetangga gue juga kena imbasnya karena ngedengerin suara rintihan gue tiap malem. Atau, mungkin juga tetangga gue ngira bahwa suara gue adalah suara setan yang sedang gentayangan.
Ketika loe sakit gigi, loe akan jadi lebih sensitif daripada cewek yang sedang PMS hari pertama. Percaya sama gue! Loe nggak akan bisa tahan ngedengerin suara berisik sedikitpun. Setiap kali ada yang bikin suara berisik, loa akan langsung marah-marah! Belum lagi makanan yang biasanya terasa lezat, akan terasa sangat susah untuk sekedar dikunyah dengan baik. TRAGIS!
Bandingkan dengan saat gue sakit hati! Ketika gue sakit hati atau patah hati, gue mungkin nggak akan merasa semenderita itu. Yang pertama kali menjadi korban ketika gue patah hati adalah bantal. Gue bakalan nangis sejadi-jadinya sampai cape. Kalo udah cape, yaudah, palingan gue bakalan tidur lebih lama.
Gue mungkin akan sedikit bad mood. Bertingkah aneh, uring-uringan, pasang muka datar, atau menghindari mengobrol dengan orang lain. Tapi kayaknya nggak bakalan lama, deh. Sehari, menurut gue udah cukup. Mungkin juga gue bakalan sering main ke luar rumah bareng temen-temen gue. Lumayan, lah, bisa bikin lupa kalau gue sedang sakit hati.
Kesimpulannya, gue nggak setuju dengan kata-katanya Megy Z! Sakit gigi menurut gue jauh lebih menyakitkan daripada sakit hati. Jauh lebih mengerikan dan juga memberikan dampak yang jauh lebih sadis. Entahlah, gue nggak tahu kenapa gue menulis postingan ini. Mungkin karena gue memang nggak setuju dengan frase "Lebih Baik Sakit Gigi Daripada Sakit Hati". Atau, mungkin seprti kata The Rain dan EndankSoekamti, gue memang "Terlatih Patah Hati"? Hemmmmmm....
P.S. Penulis memang sedang sakit gigi saat postingan ini diterbitkan :D
#WangsaPutera
Ada?
Serius ada?!
Anj#r!! Kemana aja loe?
Serius, ini kata-kata terkenal!
Nih gue kasih penjelasannya. Kalau nggak salah --berarti bener-- ini adalah judul sebuah lagu dangdut. Dan kalo nggak salah juga, penyanyinya adalah Megy Z. Coba cek di google deh! Eh, jangan bilang kalo loe juga nggak tau google! Nggak mungkin!
Banyak yang menggunakan kata-kata ini untuk menggambarkan betapa mengerikannya sesuatu yang mereka sebut 'patah hati'. Iya, patah hati yang selalu berujung sakit hati. Saking mengerikannya, mereka lebih memilih untuk merasakan sakit gigi ketimbang sakit hati. Bagi mereka, sakit gigi itu nggak ada apa-apanya. Cetek! Sakit gigi ada obatnya. Lah, sakit hati? Kemana obat hendak dicari?
Sekarang gue tanya lagi. Jangan protes kalo gue nanya melulu! Loe pernah ngerasain sakit gigi nggak sih? Pernah? Atau nggak pernah? Kalau nggak pernah, ya, bagus. Itu tandanya gigi loe sehat. Itu tandanya loe udah mengamalkan apa yang dikatakan oleh iklan-iklan pasta gigi. Juga, itu tandanya Tuhan masih baik sama loe.
Kalo loe nggak pernah ngerasain sakit gigi, nih gue kasih gambaran. Mungkin nggak semua orang bakalan paham karena ini cuma gambaran. Tapi, Kalau loe mau ngerasain sensasi sakit gigi yang asli, loe cukup makan cokelat tiap malam, dan jangan gosok gigi selama sebulan.
Pengalaman merasakan sakit gigi adalah sebuah pengalaman yang mengerikan. Ketika gue sakit gigi, kata yang paling sering gue ucapkan adalah: aduh, astaghfirullah, dan anj#ng. Iya, ironis memang.
Saking sakitnya, apalagi ketika malam, gue nggak bisa tidur nyenyak. Hampir setiap satu jam gue kebangun, merintih kesakitan, tidur lagi, sejam kemudian bangun lagi. Terus menerus sampai gue akhirnya bangun pagi dengan kondisi yang ngantuk berat karena kurang tidur. Nggak cukup sampai di situ. Yang tersiksa di malam hari itu bukan cuma gue. Tetangga gue juga kena imbasnya karena ngedengerin suara rintihan gue tiap malem. Atau, mungkin juga tetangga gue ngira bahwa suara gue adalah suara setan yang sedang gentayangan.
Ketika loe sakit gigi, loe akan jadi lebih sensitif daripada cewek yang sedang PMS hari pertama. Percaya sama gue! Loe nggak akan bisa tahan ngedengerin suara berisik sedikitpun. Setiap kali ada yang bikin suara berisik, loa akan langsung marah-marah! Belum lagi makanan yang biasanya terasa lezat, akan terasa sangat susah untuk sekedar dikunyah dengan baik. TRAGIS!
Bandingkan dengan saat gue sakit hati! Ketika gue sakit hati atau patah hati, gue mungkin nggak akan merasa semenderita itu. Yang pertama kali menjadi korban ketika gue patah hati adalah bantal. Gue bakalan nangis sejadi-jadinya sampai cape. Kalo udah cape, yaudah, palingan gue bakalan tidur lebih lama.
Gue mungkin akan sedikit bad mood. Bertingkah aneh, uring-uringan, pasang muka datar, atau menghindari mengobrol dengan orang lain. Tapi kayaknya nggak bakalan lama, deh. Sehari, menurut gue udah cukup. Mungkin juga gue bakalan sering main ke luar rumah bareng temen-temen gue. Lumayan, lah, bisa bikin lupa kalau gue sedang sakit hati.
Kesimpulannya, gue nggak setuju dengan kata-katanya Megy Z! Sakit gigi menurut gue jauh lebih menyakitkan daripada sakit hati. Jauh lebih mengerikan dan juga memberikan dampak yang jauh lebih sadis. Entahlah, gue nggak tahu kenapa gue menulis postingan ini. Mungkin karena gue memang nggak setuju dengan frase "Lebih Baik Sakit Gigi Daripada Sakit Hati". Atau, mungkin seprti kata The Rain dan EndankSoekamti, gue memang "Terlatih Patah Hati"? Hemmmmmm....
P.S. Penulis memang sedang sakit gigi saat postingan ini diterbitkan :D
#WangsaPutera
Pa,
Pa,
Bapa dimana?
Nuju naon?
Sareng saha?
Kumaha kabarna?
Sae?
Kedah sae nya, Pa.
Pa,
Apep kangen
Tos lami teu pendak
Tujuh taun, pa, tujuh taun.
Sigana cekap asana teh kanggo mopohokeun rasana ditinggalkeun
Tapi angger, asana kakara kamari bapa mulang
Dipundut ku nu Maha Kawasa
Indit sakaligus mulang
Indit ninggalkeun Apep,
Mulang nyorang Gusti nu Maha Suci
Asana teu cekap tujuh taun pikeun nyeuseuh kapeurih, miceun rasa nalangsa
Bapa kamana wae?
Pa,
Kamari apep ulin rada jauh, punten teu wawartos.
Di pangulinan, apep ninggal pameget nuju didamel
Padamelanna kaetang basajan, sederhana
Mung, jadi tukang nyugu, ngalemeskeun kai pikeun mebel
Tapi nempo eta pameget meni matak sirik, Pa
Anjeunna didamel sasarengan sareng bapana
Katingal resep tur kompak
Pa, Apep ge hayang siga kitu.
Tapi geus teu bisa
Bapa angkat waktos Apep teu acan terang nanaon
Pa,
Nuhun,
Tadi peuting geus nyimpang dina impenan Apep
Nuhun pisan geus ngalongok Apep
Pa,
Lamun ayeuna Bapa ningal Apep anu sakieu kaayaannana,
Ari bapa rek ngarasa reueus atawa henteu?
Pa,
Punten,
Hampura,
Hampura lamun Apep geus jadi budak nu goreng adat
Budak nu sok ngalawan aturan
Jadi budak nu teu puguh arahna
Pa,
Nuhun
Nuhun sabab bapa pernah ngobrol sareng Apep
Karasa, pa, sagala cariosan bapa teh manfaat kanggo Apep
Sadayana bener, Pa.
Pa,
Mugi Gusti Nu Maha Asih mikanyaah ka bapa
Mugi Gusti Nu Rea Pangampura ngahampura sadaya kelepatan bapa
Mugi Gusti Nu Maha Agung nempatkeun bapa di tempat anu pangsaena
Nuhun, Pa.
Hampura, Pa.
Bapa dimana?
Nuju naon?
Sareng saha?
Kumaha kabarna?
Sae?
Kedah sae nya, Pa.
Pa,
Apep kangen
Tos lami teu pendak
Tujuh taun, pa, tujuh taun.
Sigana cekap asana teh kanggo mopohokeun rasana ditinggalkeun
Tapi angger, asana kakara kamari bapa mulang
Dipundut ku nu Maha Kawasa
Indit sakaligus mulang
Indit ninggalkeun Apep,
Mulang nyorang Gusti nu Maha Suci
Asana teu cekap tujuh taun pikeun nyeuseuh kapeurih, miceun rasa nalangsa
Bapa kamana wae?
Pa,
Kamari apep ulin rada jauh, punten teu wawartos.
Di pangulinan, apep ninggal pameget nuju didamel
Padamelanna kaetang basajan, sederhana
Mung, jadi tukang nyugu, ngalemeskeun kai pikeun mebel
Tapi nempo eta pameget meni matak sirik, Pa
Anjeunna didamel sasarengan sareng bapana
Katingal resep tur kompak
Pa, Apep ge hayang siga kitu.
Tapi geus teu bisa
Bapa angkat waktos Apep teu acan terang nanaon
Pa,
Nuhun,
Tadi peuting geus nyimpang dina impenan Apep
Nuhun pisan geus ngalongok Apep
Pa,
Lamun ayeuna Bapa ningal Apep anu sakieu kaayaannana,
Ari bapa rek ngarasa reueus atawa henteu?
Pa,
Punten,
Hampura,
Hampura lamun Apep geus jadi budak nu goreng adat
Budak nu sok ngalawan aturan
Jadi budak nu teu puguh arahna
Pa,
Nuhun
Nuhun sabab bapa pernah ngobrol sareng Apep
Karasa, pa, sagala cariosan bapa teh manfaat kanggo Apep
Sadayana bener, Pa.
Pa,
Mugi Gusti Nu Maha Asih mikanyaah ka bapa
Mugi Gusti Nu Rea Pangampura ngahampura sadaya kelepatan bapa
Mugi Gusti Nu Maha Agung nempatkeun bapa di tempat anu pangsaena
Nuhun, Pa.
Hampura, Pa.
Pekerjaan
Aku sakit. Iya. Sakit dalam artian denotatif. Bukan sakit hati apalagi patah hati. Ini beneran sakit. Kombinasi antara keseringan begadang karena banyaknya kerjaan dan juga gara-gara nggak sengaja hujan-hujanan berhasil membuatku demam parah.
Kepalaku rasanya berat. Pusing. Suhu badanku naik, namun aku merasakan dingin yang menusuk-nusuk hingga ke tulang. Mataku seolah enggan melihat cahaya. Ingin tidur saja. Padahal, hari itu aku masih harus masuk kerja. Masih banyak kewajiban kerja yag harus aku tunaikan. Tapi, tubuh ini rasanya ingin terus menempel dengan kasur. Bukan karena aku malas, tapi karena memang aku sedang sakit.
Beberapa hari ini, Alhamdulillah, job desain sedang rami-ramainya. Dengan banyaknya event-event besar di sekitar kampus, alhasil, banyak juga yang menggunakan jasa desainku untuk sekedar membuatkan spanduk atau baliho. Sekali lagi, Alhamdulillah, dompetku masih bisa terisi di tanggal tua ini, walaupun tak seberapa. Kurasa, cukup untuk menyambung nyawa selama beberapa hari sambil menunggu honor bulanan cair.
Pekerjaanku yang hanya seorang teknisi laboratorium komputer di sebuah SMK swasta mengharuskanku untuk mencari tambahan penghasilan lain. Bukannya aku tidak bersyukur dengan apa yang kumiliki saat ini, tapi mari berpikir realistis. Honorku tidaklah seberapa! Mungkin cukup untuk biaya makan selama sebulan, tapi kebutuhanku bukan hanya makan. Kau pasti mengerti dengan keadaanku.
Aku memilih menjadi seorang desainer grafis freelance karena hanya itulah kemampuanku. Hanya itu hobiku satu-satunya yang bisa menghasilkan uang. Aku percaya, seberat apapun sebuah pekerjaan, jika itu bagian dari hobi, semuanya bisa dianggap menyenangkan.
Bekerja sebagai desainer grafis freelance, seperti yang aku lakoni ini, memang makan hati. Tidak setiap hari ada pesanan. Bayarannya kadang tidak sepadan dengan apa yang dikerjakan. Tidak ada upah minimum. Tidak ada tarif yang jelas. Jam kerja bisa kapan saja termasuk dini hari! Namanya juga freelancer.
Kalau sedang beruntung, aku bisa mendapat konsumen yang menyenangkan. Mereka adalah tipikal konsumen yang tidak banyak maunya, mudah merasa puas dengan hasil yang kuberikan, namun dapat menghargai pekerjaanku dengan sangat baik. Pekerjaan pun bisa selesai dengan cepat. Aku senang, konsumen juga puas.
Kalau sedang apes, konsumen bisa jadi sangan menyebalkan. Mereka menganggap apa yang kulakukan itu mudah. “Geser sedikit saja, gampang.” Kenyataannya, hal itu tidaklah semudah yang dibayangkan. Kau harus belajar ilmu desain grafis untuk bisa mengerti keluh kesahku. Sekedar saran, jika kau tertarik dengan dunia desain grafis, bekerjalah untuk perusahaan yang memang berkecimpung di bidang tersebut. Setidaknya mereka sudah menerapkan standar upah yang pas. Target pasar mereka jelas.
Konsumen macam ini juga banyak menuntut. Aku memberikan A, mereka minta B. Kuberi mereka B, mereka malah berpikir bahwa ternyata A lebih baik. “Kayaknya, bagusan yang tadi, deh.” Begitu terus. Revisi bisa berlangsung semalaman, bahkan berhari-hari! Seolah-oleh para konsumen itu tidak tahu apa yang mereka inginkan. Plin-plan. Saat pembayaran tiba, hasilnya tak sesuai dengan apa yang aku harapkan. Bayaran yang teramat sedikit untuk pekerjaan yang teramat banyak. Tidak sepadan!
Namun, seperti kata pepatah: Konsumen adalah raja, aku nurut saja. Walaupun hati ini rasanya penuh dengan umpatan-upatan kotor karena jengkel dengan kelakuan mereka. Tentu saja aku tidak berani mengutarakan umpatan-umpatan itu melalui mulutku. Bahaya! Bisa hilang penghasilanku kalau membuat kesan yang negatif di mata mereka. Sekali lagi, konsumen adalah raja.
Itulah alasan kenapa aku sering begadang sehingga aku jatuh sakit. Kopi seperti sudah menjadi sahabatku setiap malam. Lumayan, bisa membuatku terjaga semalaman. Lebih dari itu, kopi juga merupakan sumber inspirasi bagiku. Seolah-olah ide terus menerus menghujani otakku seiring dengan suara ‘seruput’ saat bibirku bersentuhan dengan mulut gelas. Ah! Nikmat rasanya. Aku seperti bisa duduk di depan laptopku, memandang monitor dan mengerjakan pesanan desain dari konsumen sampai pagi. Selama ada kopi, it is OK!
#WangsaPutera
Kepalaku rasanya berat. Pusing. Suhu badanku naik, namun aku merasakan dingin yang menusuk-nusuk hingga ke tulang. Mataku seolah enggan melihat cahaya. Ingin tidur saja. Padahal, hari itu aku masih harus masuk kerja. Masih banyak kewajiban kerja yag harus aku tunaikan. Tapi, tubuh ini rasanya ingin terus menempel dengan kasur. Bukan karena aku malas, tapi karena memang aku sedang sakit.
Beberapa hari ini, Alhamdulillah, job desain sedang rami-ramainya. Dengan banyaknya event-event besar di sekitar kampus, alhasil, banyak juga yang menggunakan jasa desainku untuk sekedar membuatkan spanduk atau baliho. Sekali lagi, Alhamdulillah, dompetku masih bisa terisi di tanggal tua ini, walaupun tak seberapa. Kurasa, cukup untuk menyambung nyawa selama beberapa hari sambil menunggu honor bulanan cair.
Pekerjaanku yang hanya seorang teknisi laboratorium komputer di sebuah SMK swasta mengharuskanku untuk mencari tambahan penghasilan lain. Bukannya aku tidak bersyukur dengan apa yang kumiliki saat ini, tapi mari berpikir realistis. Honorku tidaklah seberapa! Mungkin cukup untuk biaya makan selama sebulan, tapi kebutuhanku bukan hanya makan. Kau pasti mengerti dengan keadaanku.
Aku memilih menjadi seorang desainer grafis freelance karena hanya itulah kemampuanku. Hanya itu hobiku satu-satunya yang bisa menghasilkan uang. Aku percaya, seberat apapun sebuah pekerjaan, jika itu bagian dari hobi, semuanya bisa dianggap menyenangkan.
Bekerja sebagai desainer grafis freelance, seperti yang aku lakoni ini, memang makan hati. Tidak setiap hari ada pesanan. Bayarannya kadang tidak sepadan dengan apa yang dikerjakan. Tidak ada upah minimum. Tidak ada tarif yang jelas. Jam kerja bisa kapan saja termasuk dini hari! Namanya juga freelancer.
Kalau sedang beruntung, aku bisa mendapat konsumen yang menyenangkan. Mereka adalah tipikal konsumen yang tidak banyak maunya, mudah merasa puas dengan hasil yang kuberikan, namun dapat menghargai pekerjaanku dengan sangat baik. Pekerjaan pun bisa selesai dengan cepat. Aku senang, konsumen juga puas.
Kalau sedang apes, konsumen bisa jadi sangan menyebalkan. Mereka menganggap apa yang kulakukan itu mudah. “Geser sedikit saja, gampang.” Kenyataannya, hal itu tidaklah semudah yang dibayangkan. Kau harus belajar ilmu desain grafis untuk bisa mengerti keluh kesahku. Sekedar saran, jika kau tertarik dengan dunia desain grafis, bekerjalah untuk perusahaan yang memang berkecimpung di bidang tersebut. Setidaknya mereka sudah menerapkan standar upah yang pas. Target pasar mereka jelas.
Konsumen macam ini juga banyak menuntut. Aku memberikan A, mereka minta B. Kuberi mereka B, mereka malah berpikir bahwa ternyata A lebih baik. “Kayaknya, bagusan yang tadi, deh.” Begitu terus. Revisi bisa berlangsung semalaman, bahkan berhari-hari! Seolah-oleh para konsumen itu tidak tahu apa yang mereka inginkan. Plin-plan. Saat pembayaran tiba, hasilnya tak sesuai dengan apa yang aku harapkan. Bayaran yang teramat sedikit untuk pekerjaan yang teramat banyak. Tidak sepadan!
Namun, seperti kata pepatah: Konsumen adalah raja, aku nurut saja. Walaupun hati ini rasanya penuh dengan umpatan-upatan kotor karena jengkel dengan kelakuan mereka. Tentu saja aku tidak berani mengutarakan umpatan-umpatan itu melalui mulutku. Bahaya! Bisa hilang penghasilanku kalau membuat kesan yang negatif di mata mereka. Sekali lagi, konsumen adalah raja.
Itulah alasan kenapa aku sering begadang sehingga aku jatuh sakit. Kopi seperti sudah menjadi sahabatku setiap malam. Lumayan, bisa membuatku terjaga semalaman. Lebih dari itu, kopi juga merupakan sumber inspirasi bagiku. Seolah-olah ide terus menerus menghujani otakku seiring dengan suara ‘seruput’ saat bibirku bersentuhan dengan mulut gelas. Ah! Nikmat rasanya. Aku seperti bisa duduk di depan laptopku, memandang monitor dan mengerjakan pesanan desain dari konsumen sampai pagi. Selama ada kopi, it is OK!
#WangsaPutera
Subscribe to:
Posts (Atom)
